The Seen and Unseen

Dulu sekali, masyarakat Hindu di Bali akan panik bukan kepalang jika ada tetangganya yang melahirkan anak kembar buncing. Kehadiran mereka dianggap membawa petaka bagi orang-orang sekitarnya. Umumnya, kedua bayi beserta orangtuanya akan diasingkan demi menjaga kesucian desa. Puluhan tahun setelah hukum adat itu dihapuskan, kutukan kembar buncing kembali hadir dalam Sekala Niskala (The Seen and Unseen).
Film Sekala Niskala akan menceritakan tentang kisah dua anak kembar, yakni Tantri dan Tantra. Mereka bertempat tinggal di wilayah Bali. Gejala konflik film Sekala Niskala muncul ketika Tantri mengetahui bahwa saudara kembarnya yang bernama Tantra menderita penyakit yang akan membuat nyawanya hilang. Otak Tantra mulai lemah dan ia pun harus kehilangan kemampuan inderawinya secara perlahan. Kondisi Tantra praktis membuat sang kakak limbung. Ia sering duduk termenung dan sulit tidur. Ia rindu Tantra.
Tiap malam ketika dirinya terjaga, Tantri menyelinap masuk ke kamar inap Tantra. Dalam dunia imajinasinya, Tantri menjumpai adiknya dalam kondisi sehat. Perjumpaan dalam imajinasi tersebut kemudian membawa Tantri mendapatkan kembali momen bersama adiknya. Tiap malam, mereka bersenang-senang seperti dahulu kala. Bersama makhluk tak kasat mata, Tantri dan Tantra mengadah pada rembulan yang membulat penuh dan bercerita tentang gundah-gulana. Tantri menjadi begitu ekspresif, menari dengan enerjik dan antusias. Menyimak Tantra memainkan lakon Ramayana hingga memandang rembulan dari jendela kamar rumah. Tapi waktu mereka terbatas. Saat fajar menyingsing, mereka harus kembali ke kenyataan Tantra yang tak sadarkan diri dan Tantri yang depresi.
Pengalaman-pengalaman sureal yang dialami Tantri merupakan perkara lumrah bagi anak-anak. Sekala Niskala ingin menunjukkan bahwa di balik kesan polos, anak-anak punya pengalaman dan konsep yang unik tentang duka dan kematian.
Sekala Niskala, sebagai sebuah film yang membingkai Bali, tidak hanya berhenti pada problem permukaan atau visual eksotis belaka, namun mampu menyelami keseharian tokoh-tokohnya, menyulam konteks-konteks lokal, dan menghadirkannya dengan begitu mengalir. Sekala Niskala menegaskan bahwa pengalaman akan keragaman kultur tak hanya bisa diungkapkan lewat produk kebudayaan atau ritual agama setempat, tapi bisa juga melalui perasaan-perasaan personal yang sesungguhnya universal.
Komentar
Posting Komentar