Filosofi Joker

“A joker is a little fool who is different from everyone else. He’s not a club,
diamond,heart, or spade. He’s not an eight or a nine, a king or a jack. He is
an outsider. He is placed in the same pack as the other cards, but he doesn’t
belong there. Therefore, he can be removed without anybody missing him.”
(Jostein Gaarder – The Solitaire Mystery )
Joker, si sinis sedih lucu bodoh pemain cadangan, yang hanya
dimainkan sebagai kartu bantuan atau kartu pengganti saja. Seperti sebagai
pemain cadangan, joker tidak dimainkan sebagai pemain pembuka, ia hanya
mengikuti arus. Apabila sekitarnya hati, menjadi hati-lah ia, apabila
sekitarnya sekop, menjadi sekoplah ia.
Joker adalah bunglon, entah bagaimana ia selalu bisa
melaksanakan tugas-tugas dari posisi yang didudukinya. Baik tugas seorang
prajurit muda, ataupun menggantikan raja yang ditawan.
Joker adalah pengkhianat. Ia bisa saja membantu keempat raja
secara bergantian, kala pertempuran satu ia akan menggantikan raja hati,
pertempuran berikutnya ia akan menggantikan prajurit sekop. Ia hanya muncul di
tengah kerumunan dan meneriakkan maunya untuk membantu. Ia berteman dengan
siapa yang membutuhkannya. Wajik, Sekop, Hati, Keriting. Semua dibantu asalkan
sedang mendominasi. Ia tidak setia pada satu kerajaan, pada satu kepentingan,
namun bermain-main di antara kepentingan-kepentingan tersebut.
Joker bisa melakukan kudeta, apabila salah satu pejabat
kerajaan atau prajuritnya dalam posisi tersembunyi atau di tangan lawan, ia
akan menyeruak dan menggantikan posisi tersebut. Dan membantu memberi
kemenangan.
Joker hidup sendiri. Sebuah joker tidak bahu membahu dengan
temannya dalam membantu kerajaan yang ditumpanginya, mereka bersaing satu sama
lain. Terkadang ada 4 joker yang harus dibagi rata, terkadang hanya muncul 2.
Tapi mereka tidak boleh tampil bersamaan. Mereka hanya dimainkan sebagai
pengganti, pemain cadangan sendiri.
Menggunakan joker di awal akan mematikan punggawa tugas
utama. Mereka hanya bisa berdiri di luar pagar dan melihat bahwa si joker
menyeringai yang melaksanakan tugasnya. Mereka sedih karena joker menggantikan
sebelum ia muncul, bukan sesudah ia tertawan, sehingga kemunculannya tak
berarti apa-apa.
Tidak apa bila sebuah kerajaan tidak dilengkapi dengan
joker. Apabila susunan punggawanya solid dan kuat, buat apa joker? Kali ini
joker akan ditinggalkan sendiri di luar pagar menyaksikan kerajaan-kerajaan
jumawa.
Joker tidak bernilai. Sungguh tidak ada nilainya karena ada
namun tidak penting. Bukan bernilai kemenangan seperti As, atau bernilai rendah
seperti 2, atau yang anggun seperti King, Queen, Jack, yang selalu dicari dan
dirasakan kehilangannya. Dalam satu kerajaan kehilangan satu dari 52 posisi ini
sangat berarti bagi permainan, berarti sebagai nilai masing-masing pemainnya.
Namun bagaimana dengan Joker? Adanya tidak menambah nilai keseluruhan.
Keuntungannya, tidak perlu menggaji seorang joker. Toh ia bernilai nol. Yang ia
lakukan sukarela saja, hanya membantu sejenak, lalu pergi lagi di pertempuran
selanjutnya.
Ekspresi joker tidak jelas, antara tertawa sinis, tertawa
lucu, atau licik sekalipun. Ia tahu ia hanya dibutuhkan ketika meraih
kemenangan, ia hanya dimanfaatkan sebagai keuntungan belaka, tidak dilirik
ketika semua komplit. Ia terkadang marah akan itu.
Joker yang lucu, selalu berusaha menghibur punggawa yang
kehilangan temannya. Ia tahu, posisinya tidak abadi. Ia menggunakan waktu yang
sebentar itu untuk meninggalkan kesan. Sayangnya kesan itu tidak berhasil.
Seketika perang usai, semua kembali ke kesatuannya masing-masing. Joker tetap
di tumpukan terbawah. Joker tidak menyebabkan kekalahan pemainnya, ia jadi
penghibur apabila lawan yang menang. Tapi apabila si lawan berniat bunuh si
joker, maka habislah ia.
Joker menjadi simbol kesendirian dari kartu, ia tidak milik
siapa pun, tidak ada pun tidak apa-apa. Namun ketika ada, ia dimanfaatkan jadi
keuntungan. Ia juga perlambang kesedihan yang tersangkal. Ketika kesendirian
bukanlah keinginannya, tapi takdirnya. Sehingga ia tertawa di balik
kesedihannya. Sesungguhnya ia kesepian, namun tak satupun bisa menjadi
temannya.
Antara joker tidak bisa berteman. Mereka menjatuhkan satu
sama lain. Mereka saling menyimpan keinginan untuk berada dalam posisi
pengganti yang lebih baik. Mereka hanya saling melirik sinis satu sama lainnya.
Joker itu jenius, karena bagaimanapun ia bisa menjadi Raja,
memerintah dengan gayanya sendiri, walau hanya kepemimpinan semu, bisa menjadi
prajurit, yang pura-pura patuh pada pimpinan. Namun senyum palsu tetap muncul
di wajahnya. Ia dapat menjadi apa dengan sejuta strategi di kepalanya.
Joker hanya muncul ketika ada lawan. Permainan yang
dilakukan sendiri, tidak membutuhkan joker. Solitaire, Freecell, dimainkan atas
keinginan satu orang saja. Penyendiri tidak butuh joker.
Apakah benar ia berpihak netral, atau ia pengkhianat yang
menempel pada siapa saja yang memerlukannya? Butuhkah pada sebuah joker?
Joker hanyalah yang berwarna. Joker hitam hanya bayangannya.
The Joker: Haven’t you ever heard of the healing power of
laughter?
(BATMAN movies-1989)
Sumber : https://rumahbintang.wordpress.com/2010/10/24/filosofi-joker/
Komentar
Posting Komentar